The Art behind the Science of Aesthetic
Oct
2016

"Gut-Brain-Skin" Theory of Acne

"Gut-Brain-Skin" Theory of Acne

Jerawat (Acne Vulgaris) adalah salah satu kelainan kulit yang paling sering dijumpai di bidang kedokteran estetik. Di era modern ini penampilan sudah menjadi suatu hal yang sangat diperhatikan. Jerawat dapat menjadi problema atau malapetaka bagi orang orang tertentu, khususnya kaum hawa. Jerawat yang parah tidak hanya berdampak pada penampilan fisik wajah saja, namun juga berdampak pada psikososioekonomi, misalnya timbul rasa kurang percaya diri, menarik diri dari pergaulan karena ejekan ataupun bullying, gangguan emosional, lebih sulit mendapatkan pekerjaan, cemas, depresi, bahkan sampai bunuh diri. Hal itu semua tentu berdampak negatif terhadap kualitas hidup seseorang.

Pada umumnya pengobatan jerawat berupa perawatan facial, ekstraksi komedo, pemberian antibiotika/ isotretinoin topikal ataupun oral, perawatan dengan berbagai bahan topikal seperti benzoyl peroxide/ glycolic acid/ salicylic acid, dan lain-lain serta berbagai prosedur seperti chemical peeling, mikrodermabrasi, radiofrekuensi dan sinar laser. Namun sebagai praktisi di bidang kedokteran estetik, tak jarang kita jumpai pasien dengan jerawat yang membandel. Walaupun sudah dilakukan perawatan dengan berbagai metode di atas, namun jerawatnya tak kunjung sembuh.

Dalam menghadapi situasi demikian, perlu diingat adanya perspektif lain dari timbulnya jerawat, yaitu kaitan antara jerawat dengan kesehatan saluran cerna serta kondisi psikis seseorang atau yang lebih dikenal sebagai teori “Gut-Brain-Skin”, suatu teori yang diperkenalkan oleh dermatologist John H.Stokes & Donald M.Pillsbury sejak tahun 1930. Menurut Stokes & Pillsbury terdapat suatu hubungan antara usus, otak dan kulit. Penelitian menunjukkan bahwa 40% dari pasien mengalami hypochlorhydria yakni adanya migrasi bakteria dari colon menuju bagian distal usus halus serta terjadi perubahan mikroflora yang normal dalam usus. Sehingga terjadi peningkatan permeabilitas usus yang selanjutnya dapat menyebabkan terjadinya inflamasi lokal dan sistemik. Di lain pihak, kerusakan dan peningkatan permeabilitas dinding usus halus dapat menyebabkan masuknya zat-zat allergen dan bakteria ke dalam aliran darah yang disebut sebagai “Leaky Gut Syndrome”.

Dari teori “Gut-Brain-Skin” tersebut jelas tampak betapa pentingnya peran dari microbiota usus. Usus manusia dihuni oleh triliunan bakteria, baik bakteria yang baik (friendly bacteria) maupun bakteria patogen yang menyebabkan sakit. Sampai saat ini para ilmuwan telah dapat mengidentifikasi sekitar 100 macam bakteria baik atau lebih dikenal sebagai probiotik. Idealnya, probiotik dapat menguasai sampai 85% dari total bakteria didalam usus. Probiotik tersebut menempel di dinding usus halus dan usus besar, membentuk barrier protektif yang dapat menghambat serangan dari bakteria patogen seperti E.coli dan Salmonella. Di dalam usus yang sehat, probiotik berjumlah antara 100 sampai 1000 triliun per milimeter saluran cerna. Jumlah yang luar biasa banyak ini menunjukkan bahwa probiotik mempunyai peran yang sangat penting didalam menjaga kesehatan kita. Karena itu setiap hal yang dapat mengganggu keseimbangan tersebut dapat menyebabkan bad bacteria mengalami pertumbuhan berlebih dan menyebabkan penyakit.

Jadi dalam pengobatan jerawat, selain metode metode konvensional yang dipakai pada saat ini, gaya hidup dan kesehatan usus pasien merupakan faktor yang penting sekali untuk diperhatikan.



Tentang Penulis:

dr. Jopy Wikana MM., M.Biomed (AAM)
Co-founder Miracle Aesthetic Clinic Group. Mendapatkan gelar dokter pada tahun 1982 dari Universitas Brawijaya dan gelar Magister Manajemen dan Master dalam bidang Anti Aging Medicine pada tahun 1995 dan 2011. Aktif menimba ilmu tentang Beauty dan Aesthetic Medicine di dalam dan di luar negeri, dan saat ini masuk dalam daftar kandidat penerima gelar Ph.D. dalam bidang Anti Aging.